Tujuh Pilar Pengasuhan Keluarga untuk Hadapi Tantangan Digital
Fakta Baru - Jakarta, MUI Digital– Dapat dibayangkan bagaimana realitas saat ini tidak hanya berkelindan dengan hal-hal yang bersifat nyata, tetapi juga hal-hal yang bersifat maya, yang tidak terlihat, khususnya dunia digital.
Fakta ini tentu memberikan distraksi besar bagi kehidupan keluarga. Dalam kondisi itu, keluarga senantiasa dituntut untuk menghadapi tenatangan kehidupan dunia yang kian besar dan kompleks. Pertanyaannya, apa dan bagaimana mempertahankan keluarga sebagai miniatur pembangunan peradaban?
Menjawab tantangan itu, dalam Pesantren Kilat Ramadhan yang digelar Komisi Pendidikan dan Kadersiasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustaz Faisal Sundani Kamaludi memaparkan tujuh pilar pengasuhan keluarga di tengah distraksi dunia digital.
Ia menyampaikan, membangun peradaban dari kehidupan keluarga tidak cukup dengan hanya tembok fisik, tetapi juga tembok pengasuhan sehingga anak-anak mempunyai resiliensi dan kekuatan dalam menghadapi dunia ketika mereka keluar dari rumah.
“Oleh karena itu, saya katakan bahwa apabila kita ingin membangun peradaban dari rumah, maka yang perlu kita bangun itu adalah bukan hanya tembok-tembok fisik, tetapi juga tembok-tembok yang berupa tembok pengasuhan, tiang-tiang pengasuhan yang harus kita perkuat,” kata Ustaz Faisal di Masjid al-Mau’idzah Hasanah, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Sabtu (28/5/2026).
Selain itu, Ustaz Faisal juga menekankan adanya kesiapan orang tua atau calon orang tua dalam menghadapai setiap tantangan. Hal itu dimulai dengan pemahaman tentang karateristik anak zaman sekarang serta distraksi dari perubahan dunia digital.
Ia menyampaikan, zaman orang tua dan anak saat ini sangatlah berbeda. Begitu pula dengan tantangan yang mengitarinya. Sehingga penguasaan orang tua terhadap dinamika kekinian adalah suatu hal mendesak, yaitu suatu hal yang tidak secara refleks bisa dilakukan.
“Jadi mereka (orang tua) itu harus punya ilmunya, karena menjadi orang tua itu bukan sekarang ya, enggak zaman lagi menjadi orang tua itu karena kita ikut apa yang dilakukan oleh orang tua kita dulu,” jelasnya.
Adapun tujuh pilar pengasuhan untuk membangun peradaban dari kehidupan keluarga sebagaimana disampaikan Ustan Faisal adalah sebagai berikut: (i) kesiapan menjadi orang tua; (ii) mengokohkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan; (iii) tujuan pengasuhan; (iv) komunikasi yang benar, baik, dan menyenangkan; (v) pendidikan agama oleh kedua orang tua; (vi) persiapan baligh; dan (vii) bijak bertekhnologi.
(Rozi/Azhar)
Tags: MUI
Bagikan:
Berita Lain
Berita
Ketua Musyrif Diny: Melayani Jamaah Haji adalah Kemuliaan ba...
Sabtu, 23 Mei 2026 | 23.01 WIB
Berita
Ketua Musyrif Diny Ingatkan Petugas Haji Junjung Toleransi S...
Sabtu, 23 Mei 2026 | 21.45 WIB
Berita
Sosok Ulama Rendah Hati, Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah P...
Sabtu, 23 Mei 2026 | 21.30 WIB
Berita
Short Course Kurikulum Pesantren Angkat Isu Kesiapan Ponpes...
Sabtu, 23 Mei 2026 | 21.00 WIB
Berita
Ribuan Warga Hadiri Shalat Jenazah Tiga Muslim Korban Penemb...
Sabtu, 23 Mei 2026 | 20.30 WIB
Berita
Daging Dam Jamaah Haji Indonesia akan Diprioritaskan untuk P...
Sabtu, 23 Mei 2026 | 20.02 WIB
Berita
Inovasi dan Digitilasi Kunci Adaptasi Pesantren di Era Digit...
Sabtu, 23 Mei 2026 | 19.17 WIB
Berita
WAMY Puji Upaya Arab Saudi Perkuat Bahasa Arab di Tingkat Gl...
Jumat, 22 Mei 2026 | 20.09 WIB
Berita
Dukungan Zionisme Kristen di AS Mulai Melemah, Pengaruh Poli...
Jumat, 22 Mei 2026 | 20.02 WIB
Berita
Musyrif Diny Prof Niam Ajak Jamaah Bertekad Jadikan Ibadah H...
Jumat, 22 Mei 2026 | 19.52 WIB




