Upaya Generasi Muda untuk Memulihkan Sungai Citarum
Fakta Baru - Danica Fazilla/National Geographic Indonesia
Sungai Citarum di kilometer 77
Nationalgeographic.co.id— “Pemerintah itu punya mimpi, sedangkan masyarakat punya realitas.” Kalimat yang disampaikan Indra Dermawan, Founder Bening Saguling Foundation sore itu, menggambarkan kondisi Sungai Citarum secara jujur dan apa adanya.
Sejak dinobatkan sebagai sungai terkotor pada tahun 2018, Sungai Citarum yang membentang sepanjang 297 kilometer di Jawa Barat perlahan menunjukkan perbaikan. Namun, persoalan belum sepenuhnya selesai. Sebagai urat nadi Jawa Barat, Citarum seharusnya menjadi sumber kehidupan. Tetapi, jika sungai ini terus dipenuhi sampah dari masyarakat, bagaimana ia bisa kembali memberi manfaat bagi kita?
Sungai Citarum menjadi sumber air minum bagi berbagai wilayah seperti Bandung, Cimahi, Cianjur, Purwakarta, Bekasi, dan Karawang, serta memasok sekitar 80 persen kebutuhan air baku bagi penduduk Jakarta. Namun saat ini, kondisi daerah aliran Sungai Citarum kembali mengalami penurunan. Salah satu penyebab utamanya adalah kebiasaan membuang sampah ke sungai yang membuat Citarum terus tercemar. Pandangan tersebut juga disampaikan oleh Daffa Dzakki.
“Saya sering mendengar bahwa Sungai Citarum itu kotor, padahal dikenal sebagai salah satu sungai terbesar,” ujarnya. “Motivasi saya ikut kegiatan ini mungkin karena sensasinya. Jarang rasanya bisa ikut kegiatan bersih-bersih sungai saat Ramadan. Kalau melihat sejarah, pada masa Nabi pun Perang Badar terjadi di bulan Ramadan, jadi ada semangat tersendiri.”
Daffa Dzakki merupakan salah satu peserta dalam kegiatan Citarum Regenerative Ramadan Camp yang diselenggarakan pada 27–28 Februari dan 1 Maret 2026. Program ini digelar oleh Satu Bumi Lestari, WisataSekolah, Bening Saguling Foundation, dan XPLOR, bekerja sama dengan National Geographic Indonesia serta Saya Pilih Bumi sebagai mitra media.
Citarum Regenerative Ramadan Camp kali ini mengusung tema “Learni ng by Doing, Healing by Acting ” yang mengajak generasi muda menjadi bagian dari solusi melalui keterlibatan langsung dalam praktik ekonomi sirkular dan regeneratif.
Mengenal dan Memahami Sungai Citarum
Sore itu, perbincangan tentang Sungai Citarum dibuka oleh Didi Kaspi Kasim, Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia, bersama Indra Dermawan. Gelar wicara tersebut tidak sekadar membahas kondisi sungai, tetapi juga mengajak peserta melihat persoalan lingkungan dari sudut pandang yang lebih dalam.
Didi mengingatkan bahwa krisis lingkungan yang kita hadapi hari ini berangkat dari satu kenyataan sederhana. “Manusianya bertambah, tapi planetnya hanya satu.” Jumlah penduduk terus meningkat, sementara bumi tidak pernah bertambah luas.
Ia juga menyoroti bahwa perkembangan ekonomi yang kita nikmati hari ini tidak bisa dilepaskan dari sistem kapitalisme. Namun, kebijakan yang lahir sesungguhnya merupakan cerminan dari permintaan masyarakat. Apa yang diproduksi industri hadir karena ada yang membeli dan menggunakannya. Di sisi lain, hingga saat ini belum ada sistem yang mampu menangani sampah secara seratus persen. Karena itu, tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.
Dalam membangun kesadaran tersebut, peran perempuan menjadi kunci. Didi menegaskan, “Kami menemukan bahwa dalam setiap perubahan selalu ada peran perempuan. Karena itu, kami mendorong perempuan sebagai penggerak perubahan.”
Halaman:
1 2 3
Tag:
Sungai Citarum Mengolah Sampah Ekonomi Sirkular Ramadan Camp
Mutakhir
Populer




