Yohance Magai Berdaya dari Kerajinan Khas Papua: Dari Noken hingga Salon Anyam Rambut
Dari kreativitas kerajinan tangan khas Papua yang terus dijaga dan dikembangkan, Yohance membuktikan bisa berdaya mendukung ekonominya.
KOMPAS/NASRUN KATINGKA
Oleh Nasrun Katingka
02 Feb 2026 18:29 WIB · Tokoh
Yohance Magai (34) lahir dan besar di pelosok Papua yang memiliki beragam kreasi kerajinan yang dipraktikkan secara turun-temurun. Hal ini lalu menjadi inspirasi Yohance sekaligus memberi contoh perempuan Papua bisa berdaya secara ekonomi dari kreativitas masa kecil.
Sejak kecil, Yohance sudah terbiasa melihat dan mempraktikkan berbagai kerajinan tangan khas Papua. Kerajinan itu seperti membuat gelang, kalung, noken, hingga menganyam rambut.
”Sebagai anak perempuan, biasanya lebih banyak di rumah atau di kebun. Di rumah atau di tempat tetangga terbiasa melihat orang menganyam noken, bikin baju rajut, dan lainnya,” kata Yohance di Jayapura, Papua, Selasa (13/1/2026).
Yohance lahir di Bomomani, Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Namun, sejatinya kampung halamannya ada di Kampung Megaikebo, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai.
Ia dan keluarga lainnya ikut ke Bomomani di tempat tugas ayahnya yang bekerja sebagai guru sekolah menengah pertama, sedangkan ibunya hanya merupakan ibu rumah tangga. Namun, kedua orangtuanya juga biasanya turut berkebun.
Baca Juga ”Buah Tangan” Mama Endokisi, Jayapura, Menjaga Asa Dapur Tetap Mengepul
Inspirasi Mapia
Masa kecil di Mapia, Yohance dikelilingi masyarakat adat dengan kemahiran berbagai macam kerajinan tangan. Sudah lama Mapia dikenal memiliki kekayaan kerajinan noken, khususnya noken dari serat batang anggrek.
Kaum perempuan biasanya mahir membuat noken polos, anyaman pakaian adat koteka, serta aksesori pelengkapnya. Adapun kaum laki-laki terkenal piawai membuat noken anggrek dengan bermacam-macam motif.
”Kalau noken anggrek polos tanpa motif, mama-mama biasa bikin. Namun, kalau yang sudah motifnya rumit, itu hanya laki-laki yang bisa bikin. Laki-laki lebih fokus dan punya banyak waktu untuk bikin itu,” ujar Yohance.
Pemandangan kreativitas inilah yang menemani masa kecil Yohance. Sejak kelas 3 sekolah dasar atau umur 10 tahun ia mulai belajar membuat noken. Di sekitar umur segitu juga, Yohance mulai bisa menghasilkan noken. Yohance tentu juga mempelajari kerajinan tangan lain yang ada di kampungnya.
Baca Juga Noken, Warisan Budaya Papua untuk Dunia
Setelah menamatkan pendidikan dasar hingga SMA, pada 2010, Yohance merantau ke Nabire, yang kini merupakan ibu kota Papua Tengah. Pada awalnya ia menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di sana.
Namun, Yohance tidak bisa menyelesaikan pendidikannya. Saat itu, ia memilih menikah muda dan harus pindah ke Kota Jayapura, ibu kota Papua, pada 2012.
Di Jayapura, ia memilih melanjutkan studi di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ). Yohance mengambil jurusan Sastra Inggris dan menyelesaikannya pada 2016.
Merintis usaha
Sembari kuliah, Yohance melihat peluang kreativitas masa kecilnya. Pada 2014, ia merintis usaha baju rajut dan aksesori untuk tarian khas Papua.
Awalnya bikin baju rajut gitu atau atasan koteka gitu. Ini ternyata peminatnya lumayan tinggi.
Di wilayah Jayapura cukup ramai dengan pergelaran festival. Sebut saja ada Festival Teluk Humboldt di Kota Jayapura hingga Festival Danau Sentani di Kabupaten Jayapura.
”Awalnya bikin baju rajut gitu atau atasan koteka gitu. Ini ternyata peminatnya lumayan tinggi,” kata ibu dari tujuh anak ini.
Baca Juga Debora Wally, Inspirasi dan Kasih Ibu Sepanjang Masa
Tidak hanya saat ada festival, permintaan datang juga dari kegiatan sekolah hingga kantor pemerintahan. Setiap ada kegiatan dari pemerintah daerah, ia hampir selalu dilibatkan.
Noken dan baju rajut milik Yohance dihargai mulai dari Rp 500.000 hingga di atas Rp 1 juta. Barang miliknya banyak juga dibeli oleh orang-orang yang menjual kembali ke pasar-pasar atau untuk festival.
Selain itu, Yohance juga melihat peluang dari kegilaan orang Papua pada sepak bola. Setiap kali ajang Piala Dunia atau Piala Eropa, ia membuat noken hingga baju rajut dengan corak bendera dari negara peserta ajang sepak bola ini.
Ia biasanya memajang karya-karya ini di kios sederhananya di Jalan Taruna Bakti, Waena, Distrik Heram. Di tempat ini juga Yohance memberikan ruang kepada para perajin noken dari kampungnya.
”Orang-orang kampung biasanya titip kalau ada yang mau ke Jayapura. Atau kalau mereka lagi ada kunjungan ke Jayapura, mereka sendiri bawa ke sini noken karya mereka,” katanya.
Baca Juga Bergaya dengan Anyam ”Mahkota” di Salon Papua
Salon Papua
Sejak 2020, Yohance juga mulai merintis salon anyam rambut. Namun, saat itu, ia sejatinya hanya fokus untuk menjual rambut palsu.
”Awalnya hanya jual rambut palsunya, tetapi kalau ada 1-2 orang yang minta dianyamkan, saya kerjakan,” ucapnya.
Ia melihat animo orang untuk menganyam rambut yang merupakan perpaduan budaya Papua dan luar negeri ini cukup tinggi. Kerajinan yang biasanya dilakukan saat remaja ini ternyata bisa menghasilkan rupiah.
Yohance pun merasa perlu mengembangkan peluang ini. Pada pertengahan 2024 ia membuka usaha salon dengan nama Pito Papua Salon.
Di wilayah Jayapura, salon yang melayani seperti ini semakin sedikit. Di wilayah Kota Jayapura, Yohance memperkirakan hanya terdapat 3-4 salon.
Di sisi lain, permintaan anyam rambut ini cukup tinggi. Perempuan karier Papua yang bekerja di sektor swasta atau pegawai negeri biasanya memilih rambut sambung yang dianyam.
Harga anyam rambut ini bervariasi, mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 900.000. Harganya tergantung kerumitan jenis anyaman yang dipilih.
Baca Juga Dari Bidikan Visual, Anak Papua Bercerita Lebih tentang ”Tong Pu Papua”
”Ini digemari oleh mereka yang rambutnya keriting dan pendek, bikin lebih percaya diri. Selain itu, beberapa orang juga tidak mau repot dengan rambutnya. Mereka tidak perlu lagi mengatur rambut sedemikian rupa. Tinggal dirapikan sedikit langsung jadi,” ucapnya.
Belum lagi, permintaan semakin tinggi menjelang Natal dan Tahun Baru serta saat perhelatan festival. Peminatnya tidak hanya dari warga Papua, bahkan para pendatang juga tertarik untuk menganyam rambut.
Yohance mempekerjakan mereka yang sedang merantau atau menempuh kuliah di Jayapura. Seperti Yohance, perempuan Papua biasanya sudah punya bakat alami untuk menganyam rambut ini.
Di sisi lain, dengan kesibukan yang kian bertambah, Yohance turut memberdayakan perempuan muda Papua di sekitarnya. Ia mempekerjakan mereka yang sedang merantau atau menempuh kuliah di Jayapura. Seperti Yohance, perempuan Papua biasanya sudah punya bakat alami untuk menganyam rambut ini.
”Mereka biasanya punya spesialisasi masing-masing untuk jenis anyamannya. Kalau ada pelanggan, tinggal saya menyesuaikan mau panggil yang mana,” ucapnya.
Kini Yohance menunjukkan bisa berdaya dengan kerajinan khas Papua yang ia geluti sejak kecil. Ini bisa menjadi inspirasi dan mendorong muda-mudi Papua lainnya melakukan hal serupa dan memberi dampak yang lebih luas lagi.
Biodata
Lahir: Bomomani, Januari 1992
Suami: Apedius Mote (34)
Anak: 7 orang
Pendidikan: S-1 Sastra Inggris Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (2012-2016)
Pekerjaan: Wiraswasta
papua sosok perempuan papua mapia dogiyai papua tengah utama
Kerabat Kerja
Penulis:
Nasrun Katingka
|
Editor:
Moh. Hilmi Faiq
|
Penyelaras Bahasa:
Nur Adji




