Kesiapan AI Terhambat oleh Masalah Tata Kelola Data di Indonesia
Sumber Foto: Mobitekno
Fakta Utama

Kesiapan AI Terhambat oleh Masalah Tata Kelola Data di Indonesia

Fakta Baru - Mobitekno – Perusahaan di berbagai belahan dunia berlomba-lomba mengadopsi AI guna mempercepat pertumbuhan bisnis. Namun, laporan terbaru dari Cloudera mengungkap realitas yang kontras: tingginya tingkat adopsi belum sejalan dengan kelayakan infrastruktur dasar untuk hasil yang nyata.

Melalui survei bertajuk The Data Readiness Index, 96% organisasi telah mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis inti, dan 85% menyatakan sudah memiliki strategi data yang jelas.

Ironisnya, hampir 80% dari para pemimpin IT ini mengakui inisiatif AI mereka terhambat oleh keterbatasan akses data.

Ilusi Kesiapan AI di Indonesia

Kondisi di Indonesia memperlihatkan kesenjangan tajam antara keyakinan dan realitas lapangan. Menurut laporan Cloudera, Seluruh (100%) pemimpin IT yang disurvei di Indonesia merasa sangat yakin terhadap data organisasi mereka.

Keyakinan ini diperkuat oleh 95% responden yang mengklaim strategi data perusahaan sudah terdefinisi dengan sangat baik dan selaras dengan tujuan bisnis.

Fakta operasionalnya sangat berbeda, karena baru 26% organisasi yang melaporkan data mereka telah dikelola secara penuh.

Kesenjangan ini memunculkan fenomena ilusi kesiapan AI atau AI readiness illusion. Perusahaan merasa siap menskalakan penggunaan AI, padahal masalah fundamental terkait data masih menggantung dan belum tuntas.

Secara domestik, 48% pemimpin IT mengidentifikasi keterbatasan visibilitas data sebagai hambatan utama dalam pemanfaatan aset data perusahaan.

Masalah operasional ini diperumit oleh faktor internal, dengan 52% responden menyebut resistensi budaya berbagi data sebagai kendala besar.

Selain itu, 26% responden masih berkutat dengan silo data, yang menegaskan kuatnya fragmentasi data di dalam lingkungan perusahaan.

Hambatan Akses dan Infrastruktur Data

Penerapan AI yang sukses sangat bergantung pada tingkat visibilitas dan kemudahan akses data secara menyeluruh. Kegagalan pencapaian pengembalian investasi (ROI) dari proyek AI berakar pada masalah tata kelola dasar ini.

Secara global, 22% responden menyebut kualitas data yang inkonsisten sebagai penyebab utama kegagalan ROI AI, diikuti pembengkakan biaya (16%) dan integrasi alur kerja yang buruk (15%).

Di Indonesia, 31% responden mengaitkan hasil AI yang kurang memuaskan secara langsung dengan kualitas data yang buruk.

Kinerja infrastruktur teknologi memegang peran vital dalam tahap eksekusi AI. Hampir tiga perempat (73%) responden global melaporkan kendala kinerja infrastruktur telah menghambat inisiatif operasional, yang berdampak pada sulitnya menskalakan AI.

Guna mengatasi hal tersebut, 78% organisasi di Indonesia berencana meningkatkan alokasi dana untuk komputasi awan (cloud) mereka demi modernisasi sistem.

Kesiapan data ini juga bervariasi secara signifikan antar sektor industri. Sektor telekomunikasi memimpin dengan 54% respondennya menyatakan memiliki visibilitas penuh atas lokasi data mereka , dan 51% memiliki aksesibilitas data penuh.

Sebaliknya, sektor jasa keuangan dan sektor publik masih tertinggal cukup jauh, dengan tingkat visibilitas masing-masing berada di angka 30% dan 31%.

Strategi Transisi Menuju Eksekusi

Chief Technology Officer Cloudera, Sergio Gago, menyatakan perusahaan sama sekali tidak kesulitan mengadopsi AI, melainkan kesulitan mengoperasionalkannya agar dapat keluar dari tahap eksperimen.

Efektivitas AI bergantung secara total pada pasokan data yang mendukungnya. Ketiadaan akses data yang mulus akan langsung membatasi akurasi, tingkat kepercayaan, serta nilai bisnis akhir dari algoritma AI. Anda tidak bisa mengimplementasikan AI tanpa data.

Country Manager Cloudera Indonesia, Sherlie Karnidta, menyarankan langkah taktis untuk organisasi lokal. Guna mewujudkan ROI bisnis yang riil dan melampaui fase uji coba, organisasi harus meruntuhkan silo internal dan memprioritaskan visibilitas data dari ujung ke ujung secara menyeluruh.

Sebagai langkah awal yang positif, 100% organisasi di Indonesia menyatakan sangat terbuka untuk mengadopsi kerangka kerja tata kelola baru demi meningkatkan kesiapan data mereka.

Pemimpin bisnis perlu memodernisasi arsitektur data agar mendukung aliran informasi secara real-time. Implementasi pendekatan hybrid data platform direkomendasikan agar perusahaan mampu menghubungkan dan mengelola data lintas lingkungan dengan aman.

Tata kelola yang komprehensif diperlukan untuk menetapkan standar data yang konsisten. Tanpa standarisasi ketat, perusahaan berisiko membuat keputusan strategis yang salah dan membuang potensi maksimal dari sistem.

Sebagai catatan tambahan, survei global Cloudera yang mendasari analisis ini melibatkan pandangan 1.270 pemimpin IT dari kawasan AMER, EMEA, dan APAC pada perusahaan berskala besar dengan lebih dari 1.000 karyawan.

Khusus di wilayah Indonesia, pengambilan data ditarik dari respons 42 figur pemimpin IT strategis. Pada akhirnya, kesiapan data yang nyata akan menjadi faktor penentu utama bagi perusahaan untuk meraih sukses secara berkelanjutan di era bisnis cerdas masa depan.

Tags: AI Readiness Illusion, Cloudera, data, infrastruktur cloud, Kecerdasan Buatan, Kesiapan Data, ROI Teknologi, Tata Kelola Data, transformasi digital