Parlemen Inggris Usulkan Hapus Andrew dari Garis Suksesi Kerajaan
Takhta Inggris kembali diguncang prahara hebat. Kali ini, posisi Andrew Mountbatten-Windsor dalam garis suksesi kerajaan berada di ujung tanduk. Pemerintah Inggris dilaporkan tengah serius menggodok undang-undang baru yang bertujuan untuk menghapus nama adik Raja Charles III tersebut dari daftar ahli waris takhta.
Langkah drastis ini diambil menyusul penangkapan Andrew oleh kepolisian Thames Valley pada Kamis (19/2/2026). Penangkapan pria berusia 66 tahun tersebut dipicu oleh munculnya bukti-bukti baru yang memperkuat keterkaitannya dengan terpidana kejahatan seksual asal AS, Jeffrey Epstein.
Bola Panas di Parlemen
Wacana penghapusan hak takhta ini bukan sekadar gertakan. Berdasarkan laporan BBC, parlemen Inggris bersiap mengajukan proposal legislatif yang akan memastikan Andrew tidak akan pernah bisa menyandang gelar raja.
Kemarahan publik dan politikus lintas partai di Westminster tampak sudah mencapai titik didih. Ed Davey, pemimpin Partai Demokrat Liberal, menegaskan bahwa status Andrew dalam garis suksesi adalah isu mendesak yang harus segera diputuskan oleh parlemen.
"Monarki harus memastikan bahwa sosok seperti dia tidak memiliki celah untuk menjadi kepala negara," cetusnya.
Senada dengan itu, Stephen Flynn dari Partai Nasional Skotlandia (SNP) menilai publik Inggris memiliki hak untuk murka. Baginya, sangat tidak masuk akal jika seseorang yang diduga berbohong mengenai hubungannya dengan predator seksual masih memiliki peluang menduduki takhta tertinggi.
Hukuman Rakyat: 82 Persen Setuju
Sentimen negatif terhadap Andrew tercermin kuat dalam jajak pendapat terbaru YouGov. Hasilnya mengejutkan: 82 persen warga Inggris setuju jika Andrew didepak sepenuhnya dari garis suksesi. Hanya segelintir orang—sekitar 6 persen—yang merasa ia layak dipertahankan.
Secara historis, mengubah garis suksesi melalui undang-undang adalah langkah yang sangat langka. Terakhir kali hal ini terjadi secara radikal adalah pada tahun 1936, ketika Raja Edward VIII dipaksa turun takhta demi menikahi Wallis Simpson. Kini, sejarah kelam tersebut tampaknya akan terulang, namun dengan alasan yang jauh lebih kelam: skandal pidana.
Jejak Digital yang Mematikan
Meski Andrew bersikeras membantah melakukan pelanggaran hukum, bukti baru berkata lain. Dokumen dari AS mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, saat menjabat sebagai utusan dagang Inggris, Andrew diduga membocorkan jadwal perjalanan dinas resminya ke Asia kepada Jeffrey Epstein.
Data perjalanan ke Singapura, Vietnam, hingga Hong Kong tersebut dikirimkan Andrew hanya sesaat setelah ia menerima laporan resmi dari asisten khususnya. Hal inilah yang menjadi dasar penyelidikan atas dugaan 'pelanggaran jabatan publik'.
Kini, Andrew Mountbatten-Windsor tak lagi hanya menghadapi pengadilan hukum, tapi juga pengadilan sejarah yang siap menghapus namanya dari silsilah penguasa Britania Raya.




