Protes Nepal Memicu Kerusuhan: 34 Tewas dan Ribuan Terluka
PERISTIWA
Gelombang Protes Nepal memakan korban jiwa dan ribuan luka, dipicu oleh larangan media sosial dan ketidakpuasan publik. Presiden imbau kerja sama, militer dikerahkan.
Gelombang protes keras melanda Nepal sejak awal pekan ini, menyebabkan puluhan korban jiwa dan ribuan lainnya terluka. Situasi ini memaksa Presiden Ramchandra Paudel untuk mengimbau semua pihak agar bekerja sama. Militer pun telah dikerahkan di berbagai wilayah untuk memulihkan ketertiban.
Pemicu utama kerusuhan ini adalah kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan platform media sosial populer. Keputusan tersebut memicu kemarahan besar, terutama di kalangan generasi muda atau Gen Z. Mereka merasa hak berekspresi mereka telah dibatasi secara sewenang-wenang.
Selain itu, ketidakpuasan terhadap praktik korupsi yang merajalela turut memperburuk kondisi sosial. Kondisi ekonomi negara yang memburuk juga menjadi faktor pendorong demonstrasi. Akibatnya, demonstrasi damai berubah menjadi tindakan kekerasan yang meluas.
Imbauan Presiden dan Respons Pemerintah
Presiden Nepal Ramchandra Paudel pada Kamis (11/9) secara tegas mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk bekerja sama. Ia menekankan bahwa upaya serius sedang dilakukan oleh pemerintah. Tujuannya adalah memenuhi tuntutan para pengunjuk rasa secepatnya.
Paudel juga meminta masyarakat untuk tetap percaya pada proses yang berjalan. Beliau menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan ketertiban. Hal ini dilakukan demi stabilitas negara di tengah gejolak Protes Nepal.
Sebelumnya, jumlah korban tewas akibat gelombang protes ini telah mencapai 34 orang. Sementara itu, 1.368 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Situasi ini menunjukkan tingkat keparahan dampak kerusuhan yang terjadi.
Sebagai respons cepat, Tentara Nepal telah dikerahkan di berbagai wilayah strategis. Pemberlakuan jam malam juga diterapkan di beberapa kota. Langkah ini diambil untuk mengendalikan situasi dan memulihkan keamanan.
ADVERTISEMENT
Akar Masalah dan Eskalasi Kekerasan
Protes di Nepal bermula dari kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan YouTube. Kebijakan ini dianggap membatasi kebebasan berekspresi warga. Terutama Gen Z yang sangat bergantung pada platform tersebut.
Juru bicara Kepolisian Nepal, Binod Ghimire, mengungkapkan dampak lain dari kekacauan ini. “Sebanyak 14.307 narapidana melarikan diri dari berbagai penjara di seluruh negeri” selama protes berlangsung. Peristiwa ini terjadi selama periode protes berlangsung di seluruh negeri.
Demonstrasi yang awalnya damai dengan cepat berubah menjadi aksi kekerasan. Massa menyerang rumah-rumah pejabat tinggi, termasuk mantan Perdana Menteri dan mantan Presiden. Gedung parlemen serta kantor pemerintahan lainnya juga menjadi sasaran pembakaran.
Perdana Menteri Nepal KP Sharma Oli mengundurkan diri pada Selasa (9/9) di tengah eskalasi kekerasan. Pada hari yang sama, Panglima Angkatan Darat Jenderal Ashok Raj Sigdel menyerukan ketenangan dan dialog. Militer dikerahkan ke seluruh negeri pada Selasa malam, dengan pemerintah memberlakukan larangan berkumpul dan jam malam.
Sumber: AntaraNews
ADVERTISEMENT




