Said Aqil Serukan Diplomasi untuk Hentikan Konflik AS-Israel dan Iran
Sumber Foto: Liputan6.com
Internasional

Said Aqil Serukan Diplomasi untuk Hentikan Konflik AS-Israel dan Iran

Fakta Baru - Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum LPOI Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj MA menyerukan perang AS-Israel dan Iran segera dihentikan. Menurut dia, eskalasi konflik bersenjata menggerus fondasi tatanan internasional yang dibangun atas dasar hukum, keadilan, dan martabat manusia.

LPOI sebagai Asosiasi Ormas Islam Indonesia memandang bahwa Konflik bersenjata modern tidak hanya berdampak terbatas pada wilayah perang yang merugikan. Perang akan memicu krisis pangan, disrupsi energi, gelombang pengungsi, kemiskinan ekstrem, pelanggaran hak asasi manusia, serta instabilitas ekonomi global

"Kami Asosiasi Muslim Indonesia menyerukan kepada seluruh komunitas global: Hentikan perang, akhiri Penjajahan. Tolak kolonialisme dalam segala wajahnya, baik militer, ekonomi, maupun structural," kata Said dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).

Said mengatakan, korban terbesar selalu adalah warga sipil, perempuan, anak-anak, lansia, dan kelompok rentan, yang kehilangan hak paling mendasar: hak untuk hidup dalam damai dan bermartabat.

Lebih dari itu, kata dia, praktik kolonialisme, baik melalui agresi militer, okupasi wilayah, dominasi ekonomi yang eksploitatif, maupun intervensi bertentangan dengan hukum internasional dan prinsip kesetaraan antarnegara.

"Dunia tidak membutuhkan eskalasi. Dunia membutuhkan de-eskalasi yang bermartabat. Dunia membutuhkan kepemimpinan yang berpijak pada nurani, bukan dominasi global," tegas dia.

Melihat situasi di Timur Tengah ini, Said menyerukan bangsa Indonesia berdiri di atas amanat konstitusi bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

"Amanat tersebut adalah deklarasi universal yang melampaui ruang dan waktu. Ia bukan hanya prinsip domestik, melainkan mandat internasional yang menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam memperjuangkan keadilan global. Amanat ini adalah kompas moral sekaligus deklarasi internasional yang relevansinya justru semakin mendesak di abad ini," papar Said.

Sebagai negara dengan politik luar negeri bebas dan aktif, Said menilai, Indonesia memiliki legitimasi historis, kredibilitas moral, dan posisi strategis untuk memainkan peran kepemimpinan global dalam membangun jembatan dialog di tengah polarisasi dunia.

"Indonesia tidak hanya berkewajiban menjadi pengamat, tetapi juga pelaku aktif dalam menciptakan solusi yang adil dan berimbang," terang Said.

Dukung Langkah Strategis Prabowo

Mantan Ketua Umum PBNU ini mendukung inisiasi Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil langkah-langkah konkret dan strategis dalam diplomasi Internasional yang berorientasi pada perdamaian berkeadilan.

"Di tengah dinamika global yang sarat tekanan dan kepentingan, Indonesia harus mampu berdiri tegak, tidak boleh tunduk pada kekuatan mana pun, tidak terseret dalam rivalitas blok, dan tidak mengorbankan prinsip demi kompromi pragmatis," tegas dia.

Said melanjutkan, perdamaian dunia tidak dapat dipisahkan dari ketahanan nasional. Oleh karenanya, Indonesia harus kuat di dalam agar berwibawa di luar. Stabilitas politik, kemandirian ekonomi, ketahanan pangan dan energi, serta persatuan nasional merupakan fondasi utama bagi kepemimpinan global yang efektif.

"Menjaga keamanan nasional bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan memastikan bahwa Indonesia berdiri tegak, mandiri, berdaulat, dan dihormati, dalam setiap forum internasional," ungkap dia.

Lebih lanjut, Said mengajak seluruh rakyat Indonesia, akademisi, tokoh agama, masyarakat sipil, dunia usaha, generasi muda, dan diaspora, untuk memperkuat persatuan nasional dalam mendukung langkah-langkah diplomasi yang tegas, independen, dan bermartabat.

"Momentum sejarah ini menuntut kepemimpinan yang berani, bukan sekadar retorika. Kepemimpinan yang mampu berkata “tidak” terhadap tekanan yang merugikankepentingan nasional. Kepemimpinan yang menempatkan kemanusiaan di atas dominasi dan keadilan di atas kekuasaan. Indonesia tidak boleh menjadi penonton dalam pergolakan global. Indonesia harus menjadi penentu arah," imbuh Said.

Kiai Said menegaskan persatuan rakyat adalah jantung bangsa. Setiap detaknya memompa kekuatan, harapan, dan keberanian ke setiap sudut negeri.Kepercayaan pada pemimpin adalah napasnya, yang memberi arah, meneguhkan langkah, dan menjaga bangsa tetap hidup dalam badai tantangan.

"Saat jantung dan napas ini berpadu, tidak ada rintangan yang terlalu besar, tidak ada guncangan yang mampu mematahkan tekad kita. Bersama, kita berdiri kokoh, menyalakan semangat generasi, dan menaklukkan setiap tantangan—mengubah perbedaan menjadi kekuatan, dan harapan menjadi kenyataan. Inilah kekuatan sejati bangsa: rakyat yang bersatu, pemimpin yang dipercaya, dan cita-cita yang tak tergoyahkan," ujar dia.

"Demi Indonesia yang aman, maju, berdaulat, adil, dan bermartabat, Asosiosi Ormas Islam Indonesia siap menjadi perisai yang tak tertembus, benteng moral yang kokoh, dan gelombang kekuatan yang mengguncang langit dan bumi. Dukungan kami bukan sekadar simbol; ia adalah sumpah suci bangsa, lahir dari persatuan yang tak bisa dipecah, kesetiaan abadi pada konstitusi, dan komitmen moral yang melampaui generasi. Dukungan kami bukan sekadar simbol, tapi aksi nyata yang lahir dari persatuan tak tergoyahkan, kesetiaan abadi pada negara, dan komitmen moral yang melampaui generasi," sambung Said.

Mengakhiri seruannya, Said mengimbau semua pihak menyatukan suara, tenaga, dan pikiran dalam gelombang kebangkitan nasional, menyalakan obor semangat bagi seluruh anak bangsa, menghapus keraguan, dan membakar rasa percaya diri Indonesia di mata dunia.

"Bersama Presiden, rakyat Indonesia akan menjadi kekuatan moral, spiritual, dan strategis yang mengguncang langit, meneguhkan keamanan, menumbuhkan kemakmuran, dan mengangkat martabat bangsa ke puncak kejayaan yang abadi dan tak tergoyahkan. Kini saatnya berdiri sebagai satu tubuh, satu hati, dan satu bangsa. Kini saatnya Indonesia bersinar sebagai mercusuar peradaban dunia jaya, tak tergoyahkan, dan abadi sepanjang zaman," tutup Said.

Poin Sikap LPOI

Berikut poin-poin pernyataan sikap LPOI menyikapi gejolak di Iran:

1. Indonesia Harus mampu Memimpin Diplomasi Perdamaian yang Proaktif dan Berani, dengan menginisiasi dialog tingkat tinggi, mendorong gencatan senjata permanen, memperjuangkan koridor kemanusiaan tanpa hambatan, serta menjadi mediator yang kredibel dalam penyelesaian konflik internasional.

2. Indonesia Harus Menolak Tunduk pada Tekanan atau Dominasi Kekuatan Mana Pun, dengan menegaskan kedaulatan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, tanpa intervensi, tanpa subordinasi, dan tanpa keberpihakan pada blok kekuatan yang bertentangan dengan prinsip keadilan dan kemanusiaan. oleh karena nya memohon dengan hormat untuk meninjau kembali keikutsertaaan dalam keanggotaan BOP ( Board of Peace ) demi dan untuk kedaulatan NKRI serta kepentingan kedamaian abadi

3. Menegakkan Supremasi Hukum Internasional Tanpa Standar Ganda, dengan mendorong akuntabilitas atas pelanggaran hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional, serta menolak praktik impunitas yang dilegitimasi oleh kepentingan geopolitik.

4. Memperkuat Keamanan Nasional secara Terintegrasi, dengan menjaga stabilitas dan kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui penguatan pertahanan, ketahanan ekonomi, keamanan siber, serta diplomasi pertahanan yang strategis dan terukur.

5. Mengonsolidasikan solidaritas global selatan, dengan memperkuat kolaborasi dengan negara-negara berkembang guna menciptakan arsitektur global yang lebih demokratis, inklusif, dan setara.