Strategi Energi dan Diplomasi Perdagangan Indonesia di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Sumber Foto: VIVA Jateng
Internasional

Strategi Energi dan Diplomasi Perdagangan Indonesia di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Fakta Baru - Jateng – Isu memanasnya kawasan Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia. Jalur strategis di kawasan Teluk Persia itu dikenal sebagai urat nadi distribusi minyak global. Di tengah potensi gangguan yang dapat memicu lonjakan harga energi internasional, pemerintah Indonesia memastikan telah menyiapkan langkah antisipatif.

Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono, menegaskan bahwa situasi geopolitik tersebut terus dipantau secara intensif.

“Selat Hormuz itu sekitar 60 persen energi dunia memang lewat situ. Tentu kita memantau situasi seperti apa,” ujarnya.

Meski demikian, Sudaryono memastikan Indonesia tidak berada dalam posisi rentan. Pemerintah telah lama menerapkan strategi diversifikasi sumber energi sebagai bagian dari mitigasi risiko krisis global.

Menurutnya, Indonesia tidak bergantung pada satu atau dua negara dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Salah satu sumber alternatif yang diperkuat adalah pasokan dari Amerika Serikat, yang distribusi energinya tidak melalui Selat Hormuz.

“Energi kita tidak melulu bersumber dari satu, dua negara saja. Salah satunya juga dari Amerika, yang energinya tidak melalui selat itu,” jelasnya.

Diplomasi Perdagangan Jadi Perisai Ekonomi

Selain diversifikasi energi, pemerintah juga memperkuat strategi diplomasi perdagangan internasional. Sudaryono menyebut kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto berperan penting dalam memperluas jejaring kerja sama dagang.

Indonesia aktif menjalin perjanjian perdagangan bebas dengan sejumlah mitra strategis seperti Kanada, Uni Eropa, dan Peru, di samping Amerika Serikat dan negara lainnya.

Strategi ini dirancang agar Indonesia tidak terjebak pada ketergantungan pasar tunggal, baik dalam aktivitas impor maupun ekspor.

“Kalau kita impor, tidak bersumber dari satu dua negara. Kalau kita ekspor juga, pasar tujuan tidak tergantung pada satu dua negara,” tegas Sudaryono.

Penguatan diplomasi perdagangan dan diversifikasi sumber energi menjadi dua pilar utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Di tengah ketidakpastian geopolitik global, termasuk risiko konflik di Selat Hormuz, Indonesia dinilai memiliki ruang manuver yang lebih fleksibel.

Dengan memperluas mitra dagang dan jalur pasokan energi, pemerintah berupaya memastikan bahwa potensi gangguan di satu kawasan tidak langsung mengguncang stabilitas ekonomi domestik.