Pelantikan Kabinet Adhirajasa Pimpin BEM FIB USU Periode 2026-2027
Oleh: Abdullah Umar Al Faruk & Dhita Luna
Suara USU, Medan. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (BEM FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) resmi melantik kepengurusan baru periode 2026–2027 dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Gedung Serbaguna FIB USU pada Senin (02/03/2026). Pelantikan ini menandai dimulainya estafet kepemimpinan mahasiswa melalui kabinet baru yang mengusung nama Kabinet Adhirajasa.
Prosesi pelantikan dihadiri oleh pimpinan fakultas, perwakilan organisasi kemahasiswaan, serta mahasiswa FIB yang turut menyaksikan pengambilan sumpah jabatan pengurus baru. Suasana kegiatan berlangsung khidmat, namun tetap menyimpan harapan terhadap arah kepemimpinan mahasiswa ke depan. Pergantian kepengurusan ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan juga momentum refleksi atas capaian periode sebelumnya sekaligus awal dari tantangan baru yang akan dihadapi oleh kepengurusan yang dilantik.
Kabinet Adhirajasa hadir sebagai titik awal dalam menjalankan peran organisasi mahasiswa, baik sebagai wadah representasi aspirasi maupun ruang pengembangan potensi mahasiswa di lingkungan fakultas. Dalam sesi perkenalan, Ketua BEM FIB periode 2026–2027, Rifki Amansyah Siregar, menyampaikan komitmennya untuk menghadirkan kepengurusan yang lebih terbuka terhadap aspirasi mahasiswa.
Ia menegaskan pentingnya membangun komunikasi dua arah antara pengurus dan mahasiswa agar organisasi tidak berjalan secara eksklusif. Menurutnya, BEM harus hadir sebagai representasi nyata kebutuhan mahasiswa FIB. “Adhirajasa kami maknai sebagai semangat kepemimpinan yang bertanggung jawab dan berani mengambil langkah untuk kemajuan mahasiswa. Nama ini menjadi pengingat untuk kami supaya tetap konsisten,” ujarnya.
Nama “Adhirajasa” dipilih sebagai identitas kabinet karena mengandung makna kepemimpinan yang kuat, berintegritas, serta mampu membawa perubahan positif. Nilai tersebut diharapkan menjadi landasan dalam setiap langkah dan kebijakan yang diambil selama masa kepengurusan.
Dalam struktur organisasi, Kabinet Adhirajasa membentuk sejumlah divisi sebagai penopang utama jalannya program kerja. Divisi tersebut meliputi bidang pengembangan sumber daya manusia, advokasi dan kesejahteraan mahasiswa, komunikasi dan informasi, minat dan bakat, serta pengabdian masyarakat. Pembagian ini dinilai sebagai langkah awal untuk memastikan program kerja berjalan secara lebih terstruktur dan terarah.
Meski demikian, efektivitas struktur tersebut tetap bergantung pada konsistensi pelaksanaan program serta keterlibatan aktif mahasiswa secara luas. Sejumlah program kerja direncanakan akan segera direalisasikan setelah pelantikan, di antaranya forum penyaluran aspirasi mahasiswa, kegiatan pengembangan akademik, hingga program sosial kemasyarakatan. Selain itu, pengurus juga menargetkan peningkatan kolaborasi antarorganisasi mahasiswa guna menciptakan ekosistem kampus yang lebih partisipatif.
Di sisi lain, mahasiswa menaruh perhatian pada bagaimana program-program tersebut mampu menjawab persoalan konkret yang selama ini dirasakan. Beberapa isu yang menjadi sorotan antara lain akses informasi kegiatan, ketersediaan ruang diskusi terbuka, serta advokasi terhadap kebutuhan akademik mahasiswa.
Sebagai organisasi eksekutif mahasiswa, BEM tidak hanya dituntut aktif menyelenggarakan kegiatan, tetapi juga menjalankan fungsi kontrol sosial di lingkungan kampus. Peran tersebut menempatkan BEM sebagai jembatan antara mahasiswa dan pihak fakultas dalam menyampaikan aspirasi maupun menyikapi kebijakan yang berdampak pada mahasiswa.
Tantangan terbesar Kabinet Adhirajasa ke depan terletak pada konsistensi menjalankan visi yang telah disampaikan, serta kemampuan menjaga kedekatan dengan mahasiswa sebagai konstituen utama. Legitimasi kepemimpinan mahasiswa tidak berhenti pada prosesi pelantikan, melainkan diuji melalui kerja nyata, transparansi, dan keberpihakan terhadap kepentingan mahasiswa secara berkelanjutan.
Dengan demikian, pelantikan ini menjadi lebih dari sekadar pergantian struktur organisasi. Ia menjadi awal dari harapan baru bagi mahasiswa FIB USU sekaligus pengingat bahwa setiap kepemimpinan membawa tanggung jawab untuk menjawab kebutuhan dan aspirasi mahasiswa secara konkret dan berkesinambungan.




