Pengunduran Diri Massal 14 Menteri dari Kabinet Soeharto pada 20 Mei 1998
Sumber Foto: Sinar Indonesia
Nasional

Pengunduran Diri Massal 14 Menteri dari Kabinet Soeharto pada 20 Mei 1998

Jakarta, sinarindonesia.id – Indonesia pernah mengalami peristiwa pengunduran diri pejabat negara secara serentak ketika 14 menteri memilih mundur dari Kabinet Pembangunan VII pada 20 Mei 1998. Peristiwa ini terjadi di tengah krisis moneter yang mengguncang perekonomian nasional dan memicu krisis politik yang berujung pada lengsernya Presiden Soeharto.

Saat itu, nilai tukar rupiah merosot tajam, inflasi melonjak, sektor perbankan limbung, serta kepercayaan publik terhadap pemerintah terus menurun. Situasi tersebut memperparah ketidakstabilan ekonomi dan politik di Tanah Air.

Pada 20 Mei 1998, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri Ginandjar Kartasasmita memimpin rapat para menteri ekonomi di Gedung Bappenas, Jakarta. Pertemuan itu merupakan kelanjutan dari diskusi intens yang berlangsung sejak pagi hari bersama sejumlah menteri, jurnalis, dan pelaku usaha mengenai kondisi perekonomian nasional yang semakin memburuk.

Dalam bukunya Managing Indonesia’s Transformation (2013), Ginandjar mengungkapkan bahwa dalam rapat tersebut para menteri membahas situasi Indonesia yang dinilai sedang bergerak menuju krisis ekonomi dan politik yang lebih dalam tanpa arah penyelesaian yang jelas.

Di hadapan para peserta rapat, Ginandjar memaparkan kondisi ekonomi nasional secara terbuka dan menyimpulkan bahwa Indonesia berpotensi mengalami kolaps jika situasi terus dibiarkan. Pandangan tersebut didukung hampir seluruh menteri yang hadir, kecuali Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Ary Mardjono yang menyatakan keberatan.

Dalam forum itu, Ginandjar menyampaikan niatnya untuk mundur dari kabinet yang baru dilantik Presiden Soeharto empat hari sebelumnya. Sikap tersebut kemudian diikuti oleh sejumlah menteri lain hingga akhirnya 14 menteri sepakat mengundurkan diri secara bersamaan.

Mereka adalah Akbar Tandjung, A.M. Hendropriyono, Giri Suseno Hadihardjono, Haryanto Dhanutirto, Ginandjar Kartasasmita, Kuntoro Mangkusubroto, Justika Baharsjah, Rachmadil Bambang Sumadhijo, Rahardi Ramelan, Subiakto Tjarawerdaya, Sanyoto Sastrowardoyo, Sumahadi, Theo L. Sambuaga, dan Tanri Abeng.

Dalam pernyataan bersama, para menteri tersebut menyatakan bahwa pembentukan kabinet baru tidak akan mampu menyelesaikan akar persoalan krisis yang sedang melanda Indonesia. Sikap itu menjadi pukulan berat bagi pemerintahan Soeharto karena menunjukkan hilangnya dukungan dari sebagian elite ekonomi.

Sejarawan Robert Edward Elson dalam buku Soeharto: A Political Biography (2017) mencatat bahwa langkah para menteri tersebut membuat Soeharto terkejut. Pengunduran diri massal itu berada di luar skenario politik yang telah disiapkan presiden saat itu, yang sebelumnya berencana mengumumkan Kabinet Reformasi pada 21 Mei 1998.

Wakil Presiden BJ Habibie dalam bukunya Detik-detik yang Menentukan (2006) menyebut dirinya sempat meminta para menteri untuk tetap bertahan. Namun keputusan mereka untuk mundur sudah bulat.